Palu (Humas Kemenag Kota Palu) – Proses learning atau proses pembelajaran dengan maksud perubahan kontekstualisasi dari berbagai cara melihat anak-anak dan potensinya itu bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang membuat anak-anak memiliki kecenderungan untuk meninggalkan kita sebagai guru apalagi hari ini, anak-anak jauh lebih canggih dan sudah mengenal berbagai platform media sehingga sangat mudah mengakses bahan pembelajaran.

Demikian disampaikan kepala Badan litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag., saat menympaikan materi melalui zoom meeting pada pelatihan penilaian pembelajaran yang dilaksanakan oleh Balai Diklat Keagamaan (BDK) Manado di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Palu, Kamis (27/6/2024).

“Bayangkan kalau hari ini ada siswa yang kemudian lebih pintar dari pada gurunya, kalau sudah murid di atas kita sebagai guru hanya karena mereka mengakses berbagai platform di media sosial maka bisa dibayangkan pasti anak-anak akan secara masif berteman dengan berbagai media untuk mendapatkan pengetahuan”, ujar Suyitno.

Mernurutnya, guru perlu meningkatkan kompetensi dalam segala hal, namun belum merata dalam pelaksanaan pelatihan bagi guru karena kapasitas kita juga terbatas Anggaran dan orang yang akan turun juga terbatas, terlebih lagi kalau tidak bisa mengakses internet, sehingga ketinggalan ilmu pengetahuan.

Olehnya itu saya mengajak kepada semua supaya kita sendiri kemudian lebih banyak mengakses media opembelajaran yang banyak membanjiri media sosial, saya berharap guru banyak belajar mandiri.

“Pembelajaran yang kurang akan menimbulkan dampak negatif, sehingga perlu pembelajaran tetap berlangsung, tetapi yang terjadi adalah formalitas jadi formalitas atau rutinitas yang sama sekali tidak berdampak signifikan terhadap output. input anda dari anak-anak lalu ada proses yaitu ditandai dengan berlangsung pembelajaran, tentu hasil itu dipertanyakan”, tuturnya.

Selain itu, pembelajaran bukan barang yang harus kita anggap sepele, karena tentu parameternya adalah keberhasilan yang perlu dan betul-betul melihat proses pembelajaran yang berdampak positif. Tentu kita akan bicara yang terbaik, tetapi ukurannya adalah memastikan pencapaian pembelajaran bagi anak-anak terutama pasca mereka selesai dari Sekolah atau Madrasah.

“Perlu meyakini bahwa proses pembelajaran yang dilakukan melalui diklat yang Bapak Ibu hadiri ini, mindsetnya harus berubah, cara kerjanya berubah, lalu melihat persoalan kritik-kritik yang luar biasa Jadi kita tidak boleh anti kritik tapi kritik harus dianggap sebagai jamu, memang terasa pahit, tapi selalu menyehatkan dikritik itu buat kita sebenarnya harus ditanggapi positif untuk membuka diri”, ungkapnya.

Saya berharap melalui diklat ini kita semua mengalami perubahan yang berdampak pada peningkatan kompetensi. Sebagai guru pembelajarannya, manajemennya, inovasinya harus diperhatikan, dan ini nanti disurvei di mana pelatihan ini berdampak atau tidak, terutama guru-guru yang sedang mengikutinya, implikasi terhadap kegiatan belajar mengajar dilakukan merupakan tanggung jawab sebagai guru.

Pelatihan penilaian pembelajaran tersebut diselenggarakan di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Palu, dimulai dari hari Senin tanggal 24 Juni dan berakhir hari Sabtu tanggal 29 Juni 2024. Dihadiri peserta 30 orang Guru dari Sekolah dan Madrasah. (mk)

Similar Posts